Social Icons

Featured Posts

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2017 (GAGASAN PENDUKUNG)



GAGASAN PENDUKUNG
oleh Alfonsus Jehadut
 
Bulan Kitab Suci Nasional
LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA
20176


Arus zaman dunia modern melanda seluruh bangsa manusia termasuk Gereja. Banyak hal positif yang dihasilkannya. Arus aman teknologi, misalnya, membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Informasi dan komunikasi menjadi lebih mudah dan cepat. Kemudahan dan kecepatannya menjadikan dunia bagaikan satu desa kecil. Itulah sebabnya, Gereja dianjurkan juga untuk menggemakan Sabda Allah tidak hanya melalui media cetak, tetapi juga melalui bentuk-bentuk komunikasi yang lain terutama internet.

Namun, tidak sedikit pula hal negatif yang dimunculkan oleh arus zaman modern sehingga perlu diteliti secara cermat agar bisa diperbaiki. Hal ini disebut oleh Paus Fransiskus dalam himbauan apostoliknya, Evangelii Gaudium, suka cita injil. Dalam himbauan apostolik tersebut dilukiskan masalah besar yang melanda dunia modern yang akhirnya ikut melanda Gereja juga. Masalah-masalah besar itu terkait dengan mentalitas negatif budaya modern seperti konsumerisme, hedonisme, sekularisme, individualisme, kesenjangan sosial, dan fundamentalisme agama. Maka, Paus Fransiskus menyerukan kepada semua komunitas untuk selalu meneliti dengan cermat tanda-tanda zaman dan menanggapinya secara efektif.

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2016 (GAGASAN PENDUKUNG)



GAGASAN PENDUKUNG BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2016
(oleh : Petrus C. Dogo, SVD - LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA)

KELUARGA BERSAKSI DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH
“Hendaknya Terangmu Bercahaya” (Matius 5:16)

PENDAHULUAN
Tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2016 ini adalah Keluarga yang Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah. Tema ini mengajak semua orang beriman untuk menjadi pewarta Sabda Tuhan dan memberikan kesaksian tentang Sabda Tuhan itu dalam hidup harian. Dalam tradisi Gereja Katolik, aspek pewartaan ini seringkali disebut “kerigma” dan kesaksian disebut dengan “martiria.” Sebagai gambaran akan kedua aspek ini, berikut akan dijelaskan secara singkat tentang kerigma dan martiria dalam Kitab Suci.

MENGENAL KITAB-KITAB SEJARAH DALAM ALKITAB



Secara garis besar Kitab Suci Perjanjian Lama (versi Katolik) sekarang ini dapat digolongkan dan diurutkan sebagai berikut : 
  • Pentateukh : Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. 
  • Kitab-kitab Sejarah :  Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1-2 Samuel, 1-2 Raja-raja, 1-2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit*, Yudit*, Ester*, 1-2 Makabe*. 
  • Kitab-kitab Kebijaksanaan : Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan*, Putera Sirakh*. 
  • Kitab Nabi-nabi : Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh*, Yehezkiel, Daniel*, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
Tulisan-tulisan yang diberi tanda * adalah tulisan-tulisan deuterokanonika atau memuat bagian deuterokanonika.[1] Meski pembagian tersebut umum, namun tak terhindarkan jika tulisan-tulisan itu dibaca dengan sungguh-sungguh, ada beberapa tulisan yang isinya tidak selalu cocok dengan tempat kelompoknya. Misalnya, kitab nabi Yunus sangat berbeda jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan kenabian lainnya.

TIGA RUMUSAN MISA NATAL


Mengapa untuk Misa Natal disediakan tiga rumusan misa, yaitu Misa Malam Natal, Misa Fajar dan Misa Siang? - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/14/tiga-rumusan-misa-natal#sthash.cVQUAqDa.dpuf
Mengapa untuk Misa Natal disediakan tiga rumusan misa, yaitu Misa Malam Natal, Misa Fajar dan Misa Siang? - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/14/tiga-rumusan-misa-natal#sthash.cVQUAqDa.dpufMengapa untuk Misa Natal disediakan tiga rumusan misa, yaitu Misa Malam Natal, M
Kebiasaan merayakan Misa Natal sebanyak tiga kali (Misa Malam Natal, Misa Fajar dan Misa Siang), yang merupakan kekhasan Gereja Barat, sudah ada sejak abad VI ketika Sri Paus sering kali merayakannya di sejumlah gereja di sekitar Roma. Selama masa pemerintahan Charlemagnekebiasaan ini menyebar ke seluruh kekaisaran tetapi hanya pada abad XIX merayakan tiga kali Misa berturut-turut menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah muncul tiga rumusan Misa Natal  yang berlaku hingga saat ini.