Social Icons

APA YANG DIMAKSUD GEREJA TIDAK DAPAT SESAT?

Mengapa Gereja tidak dapat sesat? Karena Gereja terus menerus dibimbing oleh Roh Kudus sehingga Gereja tidak mungkin menyelewengkan wahyu Allah. Dengan kata lain, Gereja meneruskan wahyu Allah secara benar dan tepat. Roh Kudus yang tercurah pada semua anggota Gereja pada saat mereka dibaptis, seluruh warga  Gereja diberi karisma istimewa yang disebut sensus fidei (= naluri iman). Berkat karunia inilah, Gereja tidak dapat sesat, kebal salah.

Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium No.12, menerangkannya dengan gamblang : "Umat Allah mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang Dia, terutama melalui hidup iman dan cinta kasih... Keseluruhan kaum beriman yang telah diurapi oleh Yang Kudus (bdk. 1 Yoh 2:20,27) tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui cita-rasa iman (sensus fidei) adikodrati segenap umat, bila dari para Uskup hingga para awam beriman yang terkecil mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan".

Dalam Gereja Katolik ada tiga subyek yang memiliki status ketidaksesatan, yakni kebal salah/tidak dapat sesat, yaitu:
  1. Gereja sebagai keseluruhan
  2. Dewan Para Uskup dalam kesaksian yang satu suara
  3. Ketua Dewan Uskup sebagai pemangku "jabatan Petrus'
Berdasarkan sensus fidei, Gereja memang tidak dapat sesat. Namun status ketidaksesatan itu tidak dimiliki oleh masing-masing anggota Gereja secara pribadi, tetapi oleh Gereja sebagai keseluruhan.

Gereja sebagai Keseluruhan
Gereja telah memperoleh keselamatan dan ia memberi kesaksian tentangnya dalam ajaran, hidup, iman dan ibadahnya. Maka tidak mengherankan bahwa segala sesuatu yang diimani, dihayati, dipraktekkan oleh Gereja, juga dilestarikan olehnya dan diteruskan kepada generasi yang lain. Memang, semua anggota Gereja bertanggung jawab atas penerusan wahyu ilahi dalam sejarah, sebab semua terlibat di dalamnya. Namun secara khusus tanggung jawab itu ada pada Magisterium, yaitu Kuasa Mengajar Gereja. Dilihat dari sudut ini, orang boleh bicara tentang Gereja yang mengajar (Magisterium) dan Gereja yang diajar (umat). Namun antara kedua pihak ini harus ada konsensus timbal balik : keduanya harus menjaga agar jangan terjadi pemalsuan terhadap apa yang dipercayakan Tuhan kepada Gereja. Tidak boleh terjadi perpecahan antara iman umat dan ajaran para pejabat sah Gereja, hasil suksesi apostolik.

Dewan Para Uskup dalam Kesaksian yang Satu Suara
Kristus sendiri menghendaki adanya pemberita dan pengajar dalam Gereja-Nya. Atas kehendak Kristus sendiri para rasul mengangkat para pengganti mereka. Para pengganti itu wajib: (1) Menjaga perbendaharaan wahyu; (2) Menunjuk apa yang harus disebut sesat. Dalam tugas berat dan mulia itu, para pengganti Rasul ditunjang oleh Roh Kudus, sehingga pengajaran mereka bukan layak dihormati saja, melainkan juga wajib diterima sebagai pengajaran yang berwibawa, setidak-tidaknya bila mereka sepakat dan mendasarkannya pada wahyu.

Kesepakatan ajaran para uskup tampak dalam :
  1. Pengajaran/pemberitaan mereka sehari-hari yang disebut magisterium universale ordinarium (= pengajaran universal biasa).
  2. Pernyataan-pernyataan konsili umum yang disebut magisterium universale extraordinarium (= pengajaran universal luar biasa).

Dewan Para Uskup biasanya berkumpul dalam keadaan yang menuntut keputusan, karena suatu pokok iman atau aturan hidup disangsikan atau bahkan diserang. Pada kesempatan itu dewan uskup menetapkan ajaran yang benar dan kebiasaan Gereja yang semula, dan jika perlu, merumuskannya secara lebih tegas dengan menggunakan rumus dan istilah zaman bersangkutan. Mereka yang tidak menerima ajaran lama dalam rumusan
baru yang ditetapkan itu, dikucilkan (ekskomumkasi). Secara yuridis, wewenang dewan para uskup dirumuskan dalam Kitab Hukum Kanonik, kanon 749 §2,3 dan kanon 753.

Ketua Dewan Para Uskup sebagai Pemangku "Jabatan Petrus"
Jabatan Petrus diberi oleh Kristus sendiri demi mempertahankan kesatuan Gereja. Jabatan khusus itu disebut primat (= kedudukan pertama/utama; ketua) dan menjadi hak setiap pengganti Petrus. Primat itu dipercayakan kepada setiap Uskup Roma. Maka setiap Uskup Roma dengan sendirinya menjadi bapak dan guru seluruh Gereja dalam hal iman, moral dan tata tertib, demi persatuan.

Berikut adalah kutipan-kutipan penting dari Injil mengenai kedudukan Petrus dalam Gereja :
  1. Setelah mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus berkata, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (Mat 16:17-19)
  2. Pada waktu Perjamuan Malam, Yesus berkata kepada Petrus, "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (Luk 22:31-32)
  3. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Bahasa Yunani : Boske ta arnia mou). Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Bahasa Yunani : Poimaine ta probata mou). Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku (Bahasa Yunani : Boske ta probata mou). (Yoh 21:15-17)
Uskup Roma dapat menjalankan kuasanya yang khusus dengan beberapa cara, antara lain melalui:
  1. Konsili umum
  2. Penyelidikan pendapat Gereja di seluruh dunia
  3. Sinode partikular (sidang yang dihadiri oleh sejumlah uskup saja)
  4. Pernyataan resmi sebagai ketua Dewan Uskup.

Pernyataan resmi Ketua Dewan Uskup
Bila Uskup Roma - dengan bantuan Allah - mengakui sesuatu sebagai "sesuai dengan Kitab Suci dan Tradisi Apostolik", maka ia berhak memaklumkannya kepada seluruh Gereja. Tetapi untuk memaklumkannya, harus dipenuhi tiga syarat, yaitu:
  • Menyatakan bahwa ia berbicara ex cathedra (= dari kursi Petrus)
  • Menyatakan bahwa ia bermaksud mengungkapkan iman seluruh Gereja
  • Pernyataannya harus menyangkut iman atau moral.
Dalam sejarah Gereja, kuasa ketidaksesatan atau kebal salah itu dipakai oleh Uskup Roma baru dua kali, tepatnya pada tahun 1854 (Pius IX memaklumkan dogma Maria dikandung tanpa dosa, Immaculata) dan 1950 (Pius XII memaklumkan dogma Maria diangkat ke surga dengan jiwa raganya, Assumpta). Secara yuridis wewenang magisterium kepausan dirumuskan dalam Kitab Hukum Kanonik, kanon 749 §1.