TOKOH-TOKOH MAKABE MEMPERJUANGKAN APA?
MENGENAL PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS
Bercerita
merupakan salah satu metode yang efektif untuk mengajar. Dengan memakai cerita
atau dongeng, para pendengar dibawa ke dunia yang bukan milik mereka. Jika
pencerita adalah seorang yang ahli, apa yang diceritakannya dapat sungguh hidup
dan seolah-olah nyata hadir di hadapan para pendengarnya. Pada saat itu
pendengar dapat mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokohnya, mengambil
pelajaran dari isi cerita, membuat perbandingan antara apa yang diceritakan
dengan dunianya yang nyata. Mereka terlibat secara emosional, ikut sedih jika
ceritanya bernada sedih, ikut gembira jika ceritanya bernada gembira. Dengan
adanya keterlibatan aktif pendengar, pencerita dapat memasukkan pesan-pesannya
ke dalam cerita dengan lebih mudah. Suatu cerita yang bagus dan diceritakan
dengan menarik akan mampu menumbuhkan cara pandang, sikap, pencerahan, opini
yang baru bagi pendengarnya. Bahkan pendengar kadang dapat dibantu untuk
mengambil keputusan tertentu lewat cerita yang didengarnya.
Ketika mengajar
para murid dan orang banyak, Yesus kerapkali menggunakan cerita berupa
perumpamaan. Sepertiga pengajaran Yesus di dalam Injil disampaikan dalam bentuk
perumpamaan. Tetapi, Yesus bukanlah orang pertama yang memakai perumpamaan
untuk mengajar, karena di dalam Perjanjian Lama terdapat sejumlah perumpamaan
yang dipakai untuk tujuan pewartaan, yaitu 2Sam 12:1-10 (kisah tentang orang
miskin dan anak dombanya yang disampaikan oleh Natan kepada Daud); 2Sam 14:5-20
(perempuan Tekoa dengan dua anaknya); 1Raj 20:35-40 (perumpamaan yang berkaitan
dengan hukuman terhadap Ahab); Yes 5:1-7 (nyanyian kebun anggur); Yeh 17:2-10
(rajawali dan pohon anggur); Yeh 19:2-9 (singa betina dan anaknya); Yeh
19:10-14 (pohon anggur); Hak 9:7-15 (fabel tentang pohon-pohon yang mencari
raja) dan 2Raj 14:9 (rumput duri dan aras Libanon). Dari semua perumpamaan
tersebut, hanya perumpamaan yang dikisahkan oleh Natan di hadapan Daud (2Sam
12:1-10) yang mempunyai kemiripan dengan perumpamaan Yesus dari segi bentuk,
tujuan dan tehnik pengisahannya. Sebenarnya para rabi sebelum dan sezaman
dengan Yesus juga sering memakai perumpamaan di dalam mengajar. Mereka memakai
perumpamaan untuk menjelaskan isi Hukum Taurat. Yesus tidak memakai perumpamaan
untuk menjelaskan Taurat tetapi untuk mewartakan Kerajaan Allah dan berbagai
pengajaran lain.
KEPEMIMPINAN MUSA DAN PERALIHAN KEPADA YOSUA : MENYIMAK “JEJAK REKAM” DUA PEMIMPIN KARISMATIS
Di antara tokoh-tokoh Perjanjian Lama,
Musa mempunyai tempat yang istimewa karena perannya sebagai pemimpin yang
meletakkan dasar dan memberi arah bagi Israel sejak lahirnya dalam peristiwa
Keluaran dari Mesir. Tidak mengherankan bila kenangan tokoh yang satu ini
diabadikan dalam berbagai tradisi yang bertumbuh dan berkembang di sepanjang
perjalanan umat Israel. Menggunakan gambaran agraris yang pernah diketengahkan
oleh Pater C. Groenen, OFM, "Dialah yang menabur bijinya. Dari situ
berkembanglah pohon besar. Semua dijiwai semangat dan agama yang pernah ditanam
Musa, yang diletakkan Musa dalam hati dan jantung bangsa Israel"
(1992:83).
ENSIKLIK "LUMEN FIDEI" (CAHAYA IMAN)
MENGENAI IMAN
“LUMEN FIDEI” (CAHAYA IMAN)
BAGI PARA USKUP, IMAM, DIAKON, KAUM
RELIGIUS DAN UMAT BERIMAN AWAM
1. Cahaya iman: Inilah cara Tradisi
Gereja menyatakan rahmat yang luar biasa yang dibawa oleh Yesus. Dalam Injil
Yohanes, Kristus berkata tentang diri-Nya sendiri, "Aku telah datang ke
dalam dunia sebagai terang supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan
tinggal di dalam kegelapan" (Yoh 12:46). Santo Paulus menggunakan gambaran
yang sama, "Sebab Allah yang telah berfirman : 'Dari dalam gelap akan
terbit terang', bercahaya di dalam hati kita" (2Kor 4:6). Dalam dunia
orang tidak beriman, yang lapar akan cahaya, telah berkembang kultus dewa
matahari, Sol Invictus, yang
menyatakan dirinya setiap hari pada saat matahari terbit. Bahkan, meskipun
matahari selalu baru tiap pagi, sinarnya tetap tidak mampu menerangi seluruh
eksistensi manusia. Matahari tidak menerangi seluruh kenyataan; cahayanya tidak
mampu memasuki bayangan kegelapan, tempat mata manusia tertutup pada cahaya.
"Tidak pernah ada seorang pun - tulis Santo Yustinus Martir - mau mati
demi imannya kepada matahari".[1]
Sadar akan cakrawala luas yang oleh iman dibukakan di hadapan mereka, orang
Kristen menyatakan Yesus sebagai matahari sejati, "yang cahayanya
menganugerahi hidup".[2]
Kepada Marta yang menangisi kematian saudaranya, Lazarus, Yesus berkata,
"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan
melihat kemuliaan Allah?" (Yoh 11:40). Mereka yang percaya akan melihat;
mereka melihat dengan cahaya yang menerangi seluruh peziarahan hidup karena
cahaya tersebut datang dari Kristus yang bangkit, bintang fajar yang tidak
pernah terbenam.
Subscribe to:
Posts (Atom)



