Social Icons

MENGENAL KONKLAF


Proses pemilihan paus mengalami perkembangan penting sepanjang sejarah Gereja. Sejarah pemilihan paus sudah dimulai sejak pemilihan paus kedua, Santo Linus. Pada masa itu paus dipilih oleh para klerus yang tinggal di sekitar kota Roma hingga tahun 1059. Kemudian pada tahun 1179 Paus Alexander III menyatakan bahwa semua kardinal memiliki suara yang sama dalam pemilihan paus. Paus Gregorius X adalah orang yang pertama kali menggunakan kata “konklaf” pada Juli 1274 ketika ia memutuskan bahwa kardinal harus bertemu dalam sepuluh hari setelah kematian paus dan mereka harus berada dalam pengasingan yang ketat. Sejak abad 16 ditetapkan tata cara pemilihan paus seperti yang digunakan hingga saat ini, yaitu dengan menggunakan pemungutan suara.

BENARKAH ORANG KATOLIK MENYEMBAH PATUNG?

Perkembangan dan pertambahan (dari segi jumlah) umat Katolik dewasa ini cukup mengembirakan. Apakah setiap orang Katolik dewasa sudah memahami benar iman Katoliknya? Mampukah mereka mempertanggungjawabkan iman Katoliknya bila pada suatu saat ada kelompok lain yang mempertanyakannya?
Kenyataan memperlihatkan banyak sekali orang Katolik yang belum memahami secara betul dan benar iman mereka. Kasus-kasus berikut lebih memperjelas sikap iman di atas:

SEKILAS TENTANG KARDINAL



Sejak Paus Benediktus XVI menyatakan pengunduran dirinya pada tanggal 28 Februari 2013, ada sosok yang secara otomatis mulai menarik perhatian banyak orang. Sosok tersebut adalah para kardinal. Karena merekalah yang akan menentukan siapa Paus pengganti dalam konklaf. Tetapi siapakah sebenarnya para kardinal itu? Apakah peran mereka sebatas untuk mengikuti konklaf dan memilih Paus?

SEKILAS TENTANG KAUL DALAM PERJANJIAN LAMA


Dalam Perjanjian Lama terdapat banyak kaul. Tentu saja ada bermacam-macam maksud dan tingkat peresmiannya, dan juga ada bermacam-macam hal yang dikaulkan. Sebagai contoh, dalam Mazmur terdapat banyak kaul atau biasa disebut "nazar" (misal Mzm 22:26;50: 14;61:6 dst). Ketika seseorang berdoa mohon pembebasan dari penyakit atau lainnya, dan doa ini disertai dengan sebuah janji/kaul sebagai balasannya (persembahan di kenisah dan sejenisnya). Hal ini tidak berarti seperti dagang, ada imbal hasil. Kaul dimaksudkan untuk menekankan kesungguhan doa. Kaul yang sangat terkenal adalah kaul dari Yefta dalam Hak 11:29-40. Ia mengucapkan kaul untuk mengurbankan apa saja yang keluar dan pintu rumahnya apabila ia pulang dengan kemenangan atas orang-orang Amon. Sayang, ketika pulang, anak perempuannyalah yang ia jumpai. Yefta menganggap bahwa ia tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab untuk mengucapkan kaul, karena itu ia melaksanakannya. Dan yang menarik, dalam Perjanjian Lama kaul kemurnian tidak dapat dipahami, karena Israel sangat menghargai karunia anak. Perempuan tanpa anak patut disayangkan (misal : Hana dalam 1Sam 1).