Dalam Im 23:16, ‘limapuluh hari’ menunjuk pada jumlah hari yang
dihitung mulai dari persembahan berkas jelai pada permulaan hari raya
Paskah. Dan pada hari ke-50 dirayakanlah Hari Raya Pentakosta. Karena 50
hari = 7 minggu, hari itu juga disebut khag syavu’ot atau Hari
Raya Tujuh Minggu (Kel 34:22; Ul 16:10). Hari itu menandakan selesainya
menuai jelai yang dihitung mulai dari sejak pertama kalinya menyabit
gandum (Ul 16:9), dan waktu imam mengunjukkan berkas tuaian itu 'pada
hari sesudah sabat itu' (Im 23:11). Hari itu disebut juga khag haqqatsir atau hari raya menuai, dan yom habbikkurim
atau hari buah bungaran (Kel 23:16; Bil 28:26). Hari raya itu tidak
dirayakan hanya pada zaman Pentateukh, tetapi juga pada zaman
Salomo (2Taw 8:13), sebagai hari raya kedua dari ketiga pesta tahunan
(bdk Ul 16:16).
MAKNA ASAP DAN KAPEL SISTINA
Sudah sejak lama manusia menggunakan simbol untuk berkomunikasi. Jauh sebelum Masehi, pada zaman Yunani kuno, manusia menggunakan nyala api obor untuk berkomunikasi jarak jauh. Asap sebagai simbol juga dikenal dalam Perjanjian Lama. Tentang kakak-beradik, Kain dan Habel. Kain menjadi petani dan Habel menjadi gembala kambing domba. Suatu waktu, keduanya mempersembahkan korban kepada Yahwe dan dari korban bakaran itu keluar asap. Asap dari korban Kain tegak lurus menghadap ke langit. Sedangkan asap korban persembahan Habel berputar-putar, mengepul di atas permukaan tanah, dan tidak sampai ke langit.
Tapi itulah simbol. Kitab Suci penuh dengan simbol. Apa arti asap dalam persembahan Kain-Habel? Asap yang tegak lurus menghadap ke langit, berarti diterima Yahwe. Bukankah Yahwe bersemayam di atas? Dan atas adalah simbol kuasa? Sementara asap korban Habel tidak sampai ke atas dan tidak berkenan pada Yahwe.
ALLAH TRITUNGGAL MENURUT GEREJA KATOLIK
Iman kepada Allah Tritunggal berarti mengakui adanya satu Allah dalam
tiga Pribadi. Gereja Katolik tetap memegang teguh monoteisme, artinya hanya ada
satu Allah. Adanya tiga Pribadi ilahi itu tidak sama dengan adanya tiga tiga
Allah (triteisme). Memang, kata "Tritunggal" sendiri memang tidak
ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi isi ajaran imannya murni dianggap dari Kitab
Suci. Kiranya isi ajaran iman jauh lebih penting daripada sekedar label atau
istilah. Gereja hanya merumuskan ajaran yang sudah ada dalam Kitab Suci dan
dihayati Gereja awal. Yang dirumuskan bukanlah suatu kebenaran baru hasil
rekayasa.
Ajaran Allah Tritunggal berarti ada hanya satu Allah dengan tiga Pribadi yang benar-benar berbeda satu sama lain. Antara ketiga Pribadi itu ada kesatuan sempurna dalam keallahan sehingga bukannya ada tiga Allah tetapi hanya ada satu Allah. Dalam karya keluar dari diri-Nya, ketiga Pribadi Allah itu selalu bekerja bersama-sama. Meskipun demikian bisa juga dilakukan pembedaan bahwa Allah Bapa lebih dominan dalam penciptaan, Allah Putra lebih berperan dalam penebusan, dan Allah Roh Kudus lebih berperan pada pengudusan. Pembedaan ini tetap tidak menyangkal bahwa ketiga-Nya bekerjasama. Ketiga Pribadi Tritunggal itu tetap pribadi yang berbeda, berlawanan dengan ajaran sesat Modalisme sekitar abad 3. Ajaran modalisme begitu menekankan kesatuan Allah Tritunggal sehingga tidak mengakui perbedaan pribadi Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus sehingga perbedaan melulu pada fungsi saja.
"BIOGRAFI" SINGKAT DAUD
Daud adalah raja terbesar orang Israel. Ia hidup sekitar tahun 1015-975 SM. Daud adalah anak bungsu Isai, orang Benyamin. Ia diurapi sebagai raja secara diam-diam oleh Samuel. Mula-mula Daud adalah pembawa senjata raja Saul. Daud piawai memainkan kecapi sehingga ia bisa mengusir kemurungan raja. Tetapi peristiwa yang sangat lerkenal antara Daud dan Goliat, raksasa unggulan Filistin, mengubah segala-galanya. Ketangkasan dan keterampilan Daud menggunakan umbannya memusnahkan kekuatan dan mematikan raksasa Goliat, adalah awal kerontokan orang Filistin. Jalan sudah terbuka bagi Daud untuk memetik pahala yang dijanjikan Saul, yaitu mempersunting putri raja, dan kebebasan membayar pajak bagi sanak keluarga bapak Daud. Tapi unsur baru mengubah jalannya sejarah. Raja Saul cemburu melihat pejuang Israel yang baru ini. Sewaktu ia pulang dari pertempuran mengalahkan Goliat, kaum perempuan Israel menyongsong dia dengan nyanyian Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa'. Sejak itu maka Saul selalu mendengki Daud.
Subscribe to:
Posts (Atom)



